Mengajak Belajar, Bukan Menyuruh Belajar

Pada saat saya mengikuti sebuah pelatihan Assesor akuntansi 2015 silam, saya bertemu dengan seseorang assesment/ penilai yang memiliki banyak title gelar di belakang namanya. Tentu nama beliau dan gelarnya saya tidak hafal sampai saat ini namun pertemuan saya dengannya memberikan banyak makna dalam perkembangan saya mendidik  anak kedepannya. bisa dikatakan memberi arah pendidikan yang terbaik menurut saya, disamping kelemahan saya yang masih banyak belajar ini.

Bapak ini begitu sederhana, punya kemampuan dan gaya memberikan penjelasan yang menurut saya menarik untuk seorang akuntan. pendekatannya humanis dan mampu bersosialisasi dengan peserta pelatihan. beliau memberikan assesment bersama rekannya, kami melakukan pelatihan sekaligus penilaian seperti layaknya kegiatan assesment biasa.
Namun, yang menarik adalah ketika teman bapak tersebut meminta doa kepada peserta karena anaknya ada yang ingin melanjutkan studi keluar negeri. kemudian teman bapak tersebut bercerita bahwa di antara rekan-rekan sepekerjaan, bapak ini lah yang anak-anak nya yang menurutnya paling berhasil dalam mendidik anak. tentu peserta banyak yang menanyakan apa rahasianya pada si bapak, lama ia berfikir karena memang bapak ini terlihat tenang. ia menjawab bahwa ia punya kebiasaan mengajak anaknya belajar, bukan menyuruhnya belajar, dan menurutnya itulah kunci satu-satunya ketika ia sendiri berada dalam kesibukan sebagai seorang akuntan.
Pada sesi itu ia tidak lantas mengajar pendidikan pada anak, namun apa yang ia katakan memberi saya pelajaran berharga dalam kehidupan ini. selama ini mainset yang saya terima sebagai seorang anak ketika mengalami pendidikan, teman-teman sejawat mengalami pengalaman belajar, atau masyarakat umum ketika menjadwal kegiatan anaknya. ya, jawaban singkat ini begitu bermakna buat saya secara pribadi. kami dan kebanyakan orang terbiasa dengan menyuruh belajar, sementara para orang tua tidak memberikan teladan.

Keteladanan sendiri merupakan pendidikan paling efektif bagi seseorang yang belajar. mengapa demikian keteladanan mengajak semua organ manusia untuk belajar. sisi kognitif (pikiran), afektif (sikap) dan psikomotorik (gerak) berpadu menjadi satu dalam irama yang sama. teladan adalah memberi contoh, memberikan praktek dan mengajarkan sikap mendasar dalam pelaksanaan pendidikan.

Azzam Habibullah contohnya, usianya sangat muda oktober 2018 nanti usianya baru 17 tahun. Azzam menjadi salah satu pemuda dari empat pemuda seluruh Indonesia yang diundang oleh Caretakers of the Environment International (CEI), sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Azzam diundang untuk mengikuti konferensi tentang pembangunan berkelanjutan, pendidikan dan lingkungan hidup. Proposalnya yang berjudul ‘Equity dan Population Adjustment’ masuk dalam radar untuk dipresentasikan di forum dunia.

Pekerjaan rumah bagi setiap orang dalam membangun pondasi keluarga yang kokoh adalah dengan keteladanan itu sendiri. ikut aktif ketika anak-anak kita sedang mengerjakan tugas, bukan menonton televisi atau memainkan gadget merupakan sebuah langkah jitu melatih anak dalam belajar. ikut terlibat dan memberikan atmosfir belajar seperti mengajak diskusi anak, atau memberikan stimulus tentang pekerjaan yang di kerjakan memberikan efek menyenangkan bagi anak dalam memperdalam materi pelajarannya dirumah.

di kutip dari sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id kunci dari kesuksesan Azzam adalah bagaimana orang tua yang terlibat langsung dalam proses belajar anak. padahal Azzam bukan lah anak siswa dari sekolah di luar negeri, bukan juga siswa dari sekolah unggulan bertaraf internasional. Bahkan, selama menempuh pendidikan sejak kecil hingga remaja sekarang ini, Azzam hanya mengenyam sekolah formal saat menginjak jenjang taman kanak-kanak, yakni di TK Aisyiyah. Selanjutnya, Azzam menjalani proses pembelajaran di sekolah alam, yakni Sekolah Alam Medan Raya (SAMERA) yang didirikan orang tuanya.

selain itu, dengan gaya keteladanan yang diterapkan dalam keseharian anak belajar. orang tua juga memerlukan adanya pembiasaan agar anak terbiasa dengan kegiatan baik. baru-baru ini ada kegiatan yang cukup masih yaitu kegiatan 18-21 bagi orang tua dan anak. apa itu kegiatan 18-21? kegiatan ini adalah kegiatan dimana para orang tua dan anak tidak menggunakan gadget atau handphonenya, serta mematikan televisi dan alat elektronik lainnya untuk kemudian melakukan kegiatan keluarga secara bersama-sama.

kegiatan ini bisa berupa membaca bersama, bermain bersama, berdiskusi atau melakukan observasi secara bersama-sama. ya, seluruh anggota keluarga ikut aktif secara bersama-sama. termasuk dalam ketika anak mengerjakan tugas, membahasnya secara bersama-sama. mencari solusi dan ikut terlibat dalam permasalahan masing-masing anggota keluarga.
Keteladan dan pembiasaan ini lah yang menjadi tugas bagi setiap anggota keluarga, dimana pada saat ini nilai-nilai semakin kering, informasi negatif berseliweran bebas, dan kepedulian sosial yang semakin kurang. keluargalah pondasi dasar dari dampak-dampak buruk yang menjauhkan keluarga dari tujuannya yaitu menjadikan anggota keluarga sukses dalam kehidupannya dunia dan akhiratnya.
sebagai penutup, keluarga sekarang ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, angka perceraian yang tinggi, himpitan ekonomi, dan sosial yang semakin jauh dari empati. membuat kesadaran akan diri dan keluarga menjadi penting, agar kemudian tidak ada lagi kehancuran masyarakat yang lebih besar, dan bangsa ini membutuhkan penerus yang tentu lebih baik dari yang sekarang ini. maka keluargalah titik awal dari semua muara.

Semoga bermanfaat.

Imam Punarko

About Imam Punarko 204 Articles
saya menyukai digital marketing terutama teknisi SEO, Programmer Website, desain website, website yang saat ini di kembangkan pakimam.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*