Strategi baru sertifikasi guru

Bagi saya seorang pendidik, arah pendidikan hari ini belum berjalan sebagaimana mestinya. program pemerintah yang dalam hal ini diatur dan di gawangi oleh kementrian pendidikan jauh panggang dari pada apinya.

saya katakan demikian sebagai seorang pendidik yang praktek langsung dalam mencerdaskan kehidupan bangsa belum melihat sertifikasi guru hari ini sebagai sebuah solusi jitu meningkatkan kualitas pendidikan guru itu sendiri.

berdasarkan UU guru dan dosen no. 14 tahun 2005 disebutkan guru-guru di Indonesia harus melewati sertifikasi guru. namun, bila berkaca pada kehidupan rill yang berada disekolah mungkin tidak lebih dari 50% guru yang sudah tersertifikasi sebagai pendidik. selebihnya merupakan guru-guru muda yang belum berhak sertifikasi dengan berbagai macam aturan dan dalih yang berubah-ubah, guru yang beda kompetensi mengajar atau mungkin guru yang sudah terlalu tua untuk mendapatkan gelar sertifikasi guru.

yang terbaru misalnya PPG guru hari ini, yang melibatkan pembelajaran daring/online dapat dipastikan guru-guru yang usia tidak dapat mengikuti sertifikasi tersebut, guru muda mengajar diatas 2015 dapat dipastikan tidak dapat ikut, lalu yang beda kompetensinya dengan berbagai faktor pun akan gugur saat pemberkasan.

jelas ini jauh dari amanat dan cita-cita untuk meningkatkan kualitas guru pendidikan di Indonesia. janji tunjangan bagi guru yang mengikuti sertifikasi dengan dalih penyejahteraan guru sesuai dengan UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD), Pemerintah akan memberikan tunjangan profesi yang setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

Undang-undang diatas tidak berlaku untuk semua daerah, sebab di guru PPG di Jakarta yang mengajar sebagai tenaga honorer di negeri tidak akan mendapatkan tunjangan ini sampai mereka mendapatkan gelar PNS, tahu sendiri lah susahnya jadi PNS guru di jakarta bahkan magnet TKD (Tunjangan Kerja Dinamis) menarik guru untuk ke pusat ibukota dibanding mengabdi untuk daerahnya. walaupun kenyataannya akan sangat sulit.

kembali ke pelaksanaan sertifikasi guru Sekarang PPG, dapat dipastikan akan berjalan lambat dan jauh dari pada hasil yang memuaskan bagi peningkatkan kualitas pendidikan.

sebelum saya bedah lebih lanjut mengenai PPG, saya sering bertanya dalam hati apakah para pemangku kebijakan di dinas pendidikan merupakan orang yang aktif dalam dunia pendidikan secara rill atau hanya jabatan fungsional yang dapat dimiliki siapa saja dari berbagai macam latar belakang.

contoh saya sebagai guru pemasaran, yang mengajar penataan produk diminta untuk melakukan praktek seperti halnya siswa di salah satu minimarket, tidak tanggung- tanggung saya menjalaninya selama 80 jam selama 2 bulan, agar apa yang saya ajarkan kepada siswa mengena kesiswa-siswa saya yang berada dikelas. agar visualisasi penataan produk lebih nyata berada dalam kelas.

lalu apakah si pemangku kebijakan dari tingkat pusat sampai daerah yang melaksanakan sertifikasi ini sudah melakukan hal yang sama, minimal terjun langsung ke sekolah untuk melihat kondisi sekolahnya.

saya kok jadi ragu, sebab program PPG ini saya lihat jauh dari hal itu semua, jauh dari sisi ideal pelaksanaan amanat UU itu sendiri. saya menyarankan agar para pemangku kebijakan dapat melakukan praktek mengajar di sekolah, dan kalau perlu mendapatkan gaji dari sekolah tempatnya magang, dan tetap mendapat gaji seperti biasa di kantornya bertugas dinas pendidikan yang ber AC itu.

mereka di minta melihat langsung di dunia rill pendidikan disekolah-sekolah dari sekolah negeri swasta, negeri, aliyah, dsb. biar mereka merasakan dan akan malu sendiri bahwa banyak guru yang harus berkorban banyak untuk mendapatkan kelayakan hidup.

saya kok sangsi, selama kesejahteraan guru belum terpenuhi pendidikan ini akan jauh dari kemajuan yang diharapkan. saya memang tidak menkaji ini secara langsung tapi secara psikologis seseorang pendidik tentu pikirannya akan terbelah bila secara individu saja memang harus diperhatikan.

ditambah program PPG yang menguras banyak biaya ini di terapkan pada guru-guru tersebut. tak usah jauh-jauh di Jakarta saja ada yang harus berhutang untuk meneruskan PPG sampai dinyatakan lulus.

saya sendiri gak habis pikir dengan cita-cita pendidikan kita mau kemana? sebab kok bab sertifikasi ini modelnya selalu gonta-ganti, apakah ini upaya mengeluarkan anggaran atau bagaimana pikiran saya tidak sampai disitu.

namun dari itu semua mohon diperhatikan ini, cobalah yang bikin program sertifikasi diminta PKL dulu disekolah 2 bulan saja, kira-kira mereka masih bakal gunakan PPG ini untuk sertifikasi atau sebaliknya?

banyak guru yang harus jauh dari anak-anaknya, bahkan sampai ada yang hamil tua tetap harus jalan PPG, ada yang harus berjibaku mencari guru pengganti, tidak digaji demi PPG selama 2 bulan, harus cari tempat tinggal di tengah kondisi keuangan minim, dsb.

cobalah ada satu kuisioner buat sertifikasi ini, lagian apa gak cukup itu guru-guru yang sudah kuliah 4 tahun sampai harus disertifikasi, kalau ada daring kenapa harus tetap PPG selama 2 bulan yang ujung-ujungnya diajarkan oleh dosen yang sebenarnya juga jarang turun kesekolah karena sibuk mendosen di kampus.

hargailah guru seperti guru-guru yang telah mengabdikan hidupnya agar kalian jadi pejabat sehingga bisa bikin program PPG ini. saya bersyukur mudah-mudahan apa yang sampaikan ini bisa menjadi perhatian bahwa ada yang salah di dalam pendidikan di Indonesia.

anggaplah dana pendidikan seperti dana zakat, itu buat mustahiq atau apalah yang memang tidak boleh diselewengkan kalau tidak ingin perutnya buncit kena azab. gunakan dana itu sebenar-benarnya toh anak cucu kalian butuh guru juga kan, sayang kalau guru-guru terbaik malah jadi alih profesi karena kurang mendapat perhatian, dan saya sudah melihatnya di youtube gerakan sukses story setelah gak jadi guru, masa alih profesi dari guru disebut sukses story? kalau di negara lain gagal story adanya. mudah-mudahan itu juga terjadi di Indonesia.

About Imam Punarko 204 Articles
saya menyukai digital marketing terutama teknisi SEO, Programmer Website, desain website, website yang saat ini di kembangkan pakimam.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*